Select Menu
KABAR TEKNOLOGI GIF


Slider

Travel

Performance

‹
›

Cute

My Place

Olahraga

Racing

Siapa pemimpin (baca; Bupati) Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) dan Bolaang Mongondow Timur (Boltim) mendatang, sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.Para peminat Bupati di dua daerah ini, hanya boleh berikhtiar. Namun, ikhtisar politik, secerdas apapun, sering kali pula meleset. Tak ada yang bisa melebihi ketetapan Sang Pencipta. Yang tak disangka bisa jadi pemenang. Itulah yang lantas menyembulkan sebutan; Kuda Hitam.

Bak lirik lagu Melayu; Pak Ketipak Ketipung, Suara Gendang Bertalu-talu, Serentak hati bingung, Dalam hati siapa yang tahu (dstnya)… Langkah kuda hitam demikian adanya


KABAR, Utama – Merebut lebih baik daripada mempertahankan. Begitu pepatah dianggap usang. Tapi, dalam banyak peristiwa politik, itu masih dipegang teguh para pelakonnya. 

Tak heran, Petahana Bolsel, Hi Herson Mayulu (H2M) dan Incumben Boltim, Sehan Landjar, belakangan giat  bermuhibah ke komunitas pemilih.
Kantong-kantong suara itu, biasanya terwadahi, berbentuk paguyuban. Misal, Rukun Pogogutat Indonesia Bolaang Mongondow (RPIBM), Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG), dan banyak lagi, tumbuh subur di Bolsel-Boltim, bak jamur di musim hujan.  

Kandidat lain? Langkah mereka nyaris tak terdengar. Sebutlah Sam Sachrul Mamonto. Politisi muda Boltim lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Manado ini, gerakkannya seperti tersembunyi.

Alul, begitu lelaki necis ini disapa, geliat terkininya terkesan low. Pemerhati Pilkada, Harry Mokodompit, menilai aktifitas politik Sachrul Mamonto jelang Pilkada, mengendur. “Barangkali karena saya memantau lewat media massa saja. Mungkin pula dia (Sachrul, red) bermetamorfis atau mengubah bentuk bidak catur kemudian menjadi King,’’tanggap Harry, mahasiswa semester akhir Universitas Janabadra, Yogyakarta.

Namun, akademisi Universitas Pembangunan Indonesia (UNPI) Manado, Mahmudin Kobandaha, menilai sejumlah bakal calon (balon) Bupati Bolsel-Boltim,  sedang pasang kuda-kuda.

“Misal, Abdul Razak Bunsal di Bolsel, diamnya bukan tanpa gerakkan. Semua sedang mengatur strategi dan membaca peluang,’’tuturnya.
Diketahui, Abdul Razak Bunsal (ARB), awalnya menunjukkan gesture tidak berminat maju di Pilkada Bolsel. Politisi Golkar ini, dalam beberapa kesempatan terlihat akur dengan Petahana H2M. Dalam sebuah acara, H2M bahkan menyuapi ARB tumpeng.

Sedangkan Sam Sachrul Mamonto (SSM), beberapa waktu lalu, sejumlah media massa menulis kesiapan dirinya maju ke Pilkada Boltim.  
"Saya siap maju di Pilbup 2015.Tentu pernyataan sikap ini sudah dikaji dengan sangat matang dan melalui berbagai pemikiran yang melibatkan banyak orang termasuk partai saya," kata Ketua DPC PAN Boltim ini.
Sachrul menyatakan aspirasi masyarakat yang mendesaknya untuk maju di Pilbup menjadi pertimbangan penting dalam menyatakan kesiapannya. Sebab selama ini dirinya tetap menahan diri dan tetap fokus pada posisinya sebagai wakil rakyat. "Tentu ini bukan semata keinginan saya, tapi keinginan masyarakat yang sejalan dengan keinginan partai. Sebab memang tahapan sudah sangat dekat, maka saya pun harus segera menyatakan sikap," terangnya.

Dia mengakui selama ini dirinya sengaja menahan diri karena ingin menjaga agar tak terjadi gesekkan di tengah masyarakat dan antar sesama calon.
Sehingga dia belum secara terbuka menyatakan kesiapannya.
Optimisme ke Pilkada Bolsel juga diutarakan ARB. “Pada prinsipnya khusus kader Golkar tentu siap, namun demikian saya masih menunggu mekanisme Partai Golkar,”singkat ARB.

Salah satu pengurus Partai Golkar, Rafik Mokodongan, menilai ARB layak diusung ke Pilkada.

“Komitmen pak Abdul Rajak Bunsal sudah teruji,sehingga kami, dari Partai Golkar siap berada di garda terdepan untuk memenangkan bersama-sama seluruh rakyat Bolsel, mulai dari pesisir hingga di ibukota Molibagu,’’katanya.

(timkabar)
- - - - - - - -
 
Add caption

Bupati petahana, bukan lagi momok bagi kontestan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Adanya Datu Ponigad (baca; Pelaksana Tugas Bupati), membuat derajat Petahana dan kontestan lainnya, sama rata.Ini, lantaran UU Pilkada menitahkan; Petahana harus mundur dari jabatan Bupati, enam bulan sebelum pemungutan suara Pilkada.Ibarat kendaraan, Petahana pun Zero!. Nantinya, Gubernur menunjuk seorang Pelaksana Tugas Bupati dari kalangan birokrat, yang akan menjalankan roda pemerintahan daerah, sekaligus mempersiapkan pelaksanaan Pilkada hingga terpilih Bupati devinitif.Kondisi ini membuat Pilkada makin kompetitif. Rakyat bebas memilih. PNS tak lagi dipaksa berpolitik praktis. Kecuali nekad; bak laron menabrak api.

 

 KABAR, Utama – Gong Pilkada Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), tak lama lagi ditabuh Komisioner KPUD setempat, sebagai penyelenggara.

Panji-panji kebesaran para kontestan dan barisan kuat ‘pasukan’ pendukungnya, segera pula tersaji meramaikan pesta rakyat lima tahunan itu.
Strategi politik anyar plus doktrin, yang dianggap ampuh mendulang suara konstituen, dirumus. So pasti, galibnya perhelatan politik, tensi pun akan meninggi. Namun, adu kuat para kontestan dan timnya, bisa jadi justeru pemantik huru-hara. Di poin ini, aparat pengaman tentu tak boleh bablas.
Menilik kekuatan konstestan Kepala Daerah (Kada), beberapa kalangan menilai Petahana masih dihitung utama. Pengamat Pilkada, Mahmudin Kobandaha SH, MH, misalnya, menuturkan, meski kondisi zero di tataran kekuasaan pemerintahan, namun modal dasar finansial, sosial dan politik, dari seorang Petahana, cukup mapan.
“Petahana sudah punya pundi. Lebih mudah melenggang, meski tidak sedang menyetir pemerintahan. Tapi kan politik banyak tikungannya. Juga, saat tidak sedang berkuasa di pemerintahan, ada banyak potensi kekuatan tergerus. Misal, PNS dan aparat pemerintah di Desa, sudah diluar kendali Petahana,’’tanggapnya.

Di banyak peristiwa politik, kontestan yang didukung penuh kekuatan rakyat, bisa menjerembabkan Petahana. Akademisi Universitas Pembangunan Indonesia (UNPI) Manado itu mencontohkan Pilkada 2010 Bolsel, Pilkada 2013 Bolmut dan Pilwako 2013 Kotamobagu.

Dari tiga Pilkada ini, paling dramatis di Bolsel. Pada putaran kedua, Petahana Arudji Mongilong harus mengakui kelebihan adik iparnya, Herson Mayulu. Sedangkan di Bolmut, Petahana Hamdan Datunsolang, dilawan Wakil Bupati Depri Pontoh. Depri jadi kampiun dengan selisih suara signifikan. Akan halnya di Kotamobagu. Djelantik Mokodompit diungguli Wawali Tatong Bara yang menjadi rivalnya di Pilwako 2013.

Namun, menurut Mahmudin, politik tidak selamanya bulat. Banyak terjadi, kemenangan justeru dituai setelah jeda beberapa periode.
“Kontestan yang pernah mengalami kekalahan, secara mengesankan menjadi pemenang pada periode berikut, itu sudah terjadi di banyak tempat,’’paparnya.

Menurutnya, banyak faktor penyebab petahana tumbang. Dari banyak study, tumbangnya Petahana lantaran rakyat jenuh dan menginginkan perubahan. “Pragmatisme pemilih berubah jadi militansi ketika muncul figure yang ditindas. Biasanya, masyarakat pemilih akan menyatu pada figure tertindas,’’tambahnya.

So, tak heran figure-figur Calon Bupati (Cabup) di Boltim dan Bolsel, kini mulai bermunculan. Di Boltim, misalnya, sedang dielus-elus Drs Umar Mamonto, birokrat yang berkarir di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI. Wilayah kerja lulusan Fisip Unsrat angkatan 86 ini, di Balai Pengkajian Pengembangan Komunikasi dan Informatika, meliputi 4 provinsi yakni Papua Barat, Maluku Utara, Gorontalo dan Sulawesi Utara. Umar yang beristeri puteri dari Tutuyan berparas cantik, Dr Velma Buntuan MKes, menyatakan siap maju di Pilkada Boltim.  

Selain Drs Umar Mamonto, sejumlah birokrat, akademisi dan pengusaha asal Boltim yang berada diluar daerah, juga sedang membidik kursi bupati Boltim.
Bahkan, rival Sehan Landjar di Pilkada 2010, Sehan Mokoagow, juga mulai dijagokan warga. Banyak menilai, pada Pilkada lalu Sehan Mokoagow hanya membuat 1 kesalahan saja, yakni keliru memilih papan II.
Elektabilitas Mokoagow masih akan terdongkrak, karena emosi Pileg dan Pilkada kali ini dianggap agak beda. “Itu bisa diperbaiki di Pilkada 2015,’’kata Aziz, warga Boltim.

Akan halnya di Bolsel. Para petarung Pilkada 2010, seperti Arudji Mongilong, Ahmad Yani Suratinoyo (AYS), kabarnya mulai bergerilya. Secara gamblang, Arudji memang belum menyatakan sikap maju ke Pilkada. Namun AYS, jauh-jauh hari sudah memproklamirkan diri di media social (medsos), bakal menantang Petahana Herson Mayulu.    


Sementara, di tengah geliat para kandidat bakal calon bupati (balonbup) Bolsel mengais dukungan, beberapa warga Bolsel mengapungkan beberapa figure alternative. Diantaranya Aditya Anugrah Moha (ADM) dan Anugrah Beggy Gobel (ABG), digadang warga agar maju ke Pilkada. “Jika para senior masih malu-malu, maka kita coba junior,’’kata Muthalib, warga Bolsel. Nah lho!.

(timkabar)
- - - - - - - - - - -
Kepala Daerah (Kada) dan Wakilnya tidak akur, bukan rahasia lagi. Fakta berceceran. Bahkan, tidak sedikit dalam satu daerah terdapat ‘dua matahari’. Kada dan Wakilnya saling berhadap-hadapan. Hubungan yang tadinya mutual, berujung konflik. Itu baru sekelumit pasca terpilih.
Memang, merengkuh tahta, bukan perkara gampang. Syukur, DPR merevisi pasal Pilkada; mengembalikan Wakil sepaket dengan Kada untuk dipilih.
Hingganya, calon Kada bisa berbagi energy. Terutama, basis dukungan Wakil dalam memperbesar raupan suara.


KABAR, Utama – Pemaketan calon Kada dan Wakil di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), tinggal menunggu tahapan pilkada dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat.

Jika Pilkada Boltim digelar 04 Oktober 2015 dan Bolsel 16 Desember 2015, sesuai kesepakatan pemerintah dan DPR RI menyangkut jadawal penyelenggaraan Pilkada langsung dan serentak, ketika membahas Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. Maka, diperkirakan pemaketan di Boltim dan Bolsel tinggal menghitung bilangan dua sampai tiga bulan kedepan.

“Bisa saja pemaketan Kada dan Wakil di Boltim disahkan April dan Bolsel Juni, melihat jadwal penyelenggaraan yang disepakati pemerintah dan DPR,’’kata pengamat Pilkada, Mahmudin Kobandaha, SH, MH.

Bagaimana geliat para peminat papan II (sebutan Wakil Kada, red), juga para calon Kada, jelang pemaketan. Dari Bolsel, petahana Hi Herson Mayulu (H2M), secara terbuka saat mengukuhkan ratusan pendukung menamakan diri Forward H2M, menyatakan  sudah menyiapkan calon Wakil, pendampingnya di Pilkada. “(calon Wakil) asli Bolsel,’’sebut Oku, sapaan Herson Mayulu.

Calon Kada lainnya di Bolsel, Ahmad Yani Suratinoyo (AYS), sejauh ini belum menyentil siapa calon Wakilnya. Menariknya lagi, sampai kini, baru H2M dan AYS yang berani menyatakan diri maju sebagai calon Kada. Padahal, Bolsel memiliki segudang kader yang layak memimpin daerah paling Selatan Bolaang Mongondow Raya (BMR) itu. Sebut saja, Aditya Didi Moha (ADM) dan Anugrah Beggy Gobel (ABG). Dua tokoh muda ini masing-masing punya nilai plus.
Akan halnya calon Wakil. Riston Mokoagow yang pada Pilkada 2010, mendampingi AYS, kini sudah memperkuat gerbong H2M. Riston, baru-baru dikukuhkan H2M sebagai personel Forum Bersama Tim (Forbest) H2M.

Menurut tokoh pemuda Posigadan, Rahwana Huko, Bolsel tidak kekurangan figure yang layak ke posisi Wakil Kada. Dia lantas menyebut Iskandar Kamaru. “Dari Posigadan masih ada Iskandar Kamaru. Juga Riston Mokoagow dan lainnya,’’kata Huko. Beberapa nama seperti Abdul Razak Bunsal dan Samsul Badu juga disebut-sebut warga Bolsel pantas mendampingi calon Kada.


Boltim setali tiga uang. Selain petahana, Salim Landjar, calon Kada lainnya masih timbul tenggelam. Belakangan ini, Sam Sachrul Mamonto dan Ahmad Alheid kembali diapungkan pendukungnya sebagai calon Kada.

Kendati mengapung di calon Kada, Ahmad Alheid ditapis warga Boltim layak ke papan II. “Mat (Ahmad Alheid, red), layaknya di posisi wakil bupati,’’kata Dahlia, warga Tombolikat.

Deretan calon wakil yang mengapung di Boltim adalah Medi Lensun, Uyun Pangalima, Rusdi Gumalangit, Argo Sumaiku, dan Sehan Mokoagow.

Dari survey KABAR, figure yang dianggap layak sebagai calon pengendara DB 2 (mobil dinas Wakil Bupati, red) di dua daerah ini, umumnya hanya dikenal dari aktifitas mereka, sebagai politisi, professional dan birokrat. Meski kader daerah setempat, rata-rata warga yang ditemui mengaku tidak kenal dekat.


“Cuma tahu deng lia pa dorang di Koran. Di hajatan masyarakat jarang dapa lia,’’kata Rustaman Paputungan, warga Boltim, senada dengan Hasyim Thalib, warga Bolsel. Nah lho.

(timkabar)
- - - - - - -
PEMILIHAN Bupati (Pilbup) di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), digelar serentak tahun ini.

Sebagai Petahana, Eyang—sapaan Sehan Landjar, Bupati Boltim, dan Oku—panggilan Herson Mayulu, Bupati Bolsel, diprediksi masih digdaya.
Logika terbalik, ketika menilik riwayat ‘perang’ Eyang dan Oku merebut tahta Boltim dan Bolsel di Pilbup lalu. Sulit dipercaya dua tokoh ini akan jadi kampiun.  
Hanya dengan modal sosial, Eyang dan Oku menjungkirbalikkan prediksi banyak pengamat yang meragukan keperkasaan mereka, kala itu. Eyang dengan akronim Bersemi dan Oku berjargon MaDu, akhirnya menduduki singgasana di daerahnya.

Lalu, akankah nalar pemilih tergiring pada kondisi Eyang dan Oku sebagai Petahana? Ataukah berbalik pada logika kala Eyang dan Oku belum apa-apa?

KABAR, Utama – Bukan hanya soal Eyang dan Oku sebagai Petahana. Melainkan ‘kendaraan’ politik yang akan menghantar mereka kembali ke tahta, menjadi perbincangan khalayak Boltim dan Bolsel, bahkan publik Bolaang Mongondow Raya (BMR), akhir-akhir ini.

Paling anyar pula, tentang ‘Datu Ponigad’ (baca; Plt Bupati) nanti dari kalangan birokrat, yang akan ditunjuk Gubernur, bukan muskil bakal menggerus kekuatan sementara Petahana tanpa mahkota, Eyang dan Oku, terutama dukungan di kalangan pemilih PNS.

Soal kendaraan politik, publik mahfum, bak jejaka, Sehan Landjar dalam posisi melamar. Mengingat Eyang bukan sebagai Ketua Partai. Sedangkan Herson Mayulu bak menyetir kendaraan pribadi, karena dirinya Ketua DPC PDIP Bolsel.
Namun, beredar kabar, Eyang kini sudah plong. Syarat 20 persen dukungan parpol, sebagaimana dititahkan UU Pilkada, bakal didonasi Hanura dan Nasdem. Kenapa Hanura?, karena isteri Sehan Landjar, Nursiwin Dunggio adalah Penasihat DPC Hanura Boltim. Sementara sokongan Nasdem, disebut-sebut berasal dari Pimpinan DPP yang merapat ke Eyang.

“Hanura dan Nasdem sudah mengikat komitmen mengusung Eyang, itu sudah direstui DPP masing-masing,’’kata sumber di Boltim, Senin (23/02/2015).
Kekuatan Eyang dan Oku, juga akan ditentukan pasangannya. Soal ini, tampaknya belum begitu digubris.

“Fokus Herson dan Sehan sekarang ini adalah menghitung kekuatan lawan,’’kata akademisi asal Bolmong di Manado, Mahmudin Kobandaha SH, MH.
Siapa saja mereka, sejauh ini belum muncul ke permukaan. “Jika menghitung jumlah fraksi di DPRD Bolsel, sedikitnya tiga pasangan Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) yang bakal bertarung. Begitu pula di Boltim,’’tambah Kobandaha.

Namun, secara personal, Bakal Cabup yang menggadang maju ke Pilkada Boltim dan Bolsel mulai bermunculan. Sebut saja, Ahmad Alheid, Abdul Razak Bunsal, Herry Mamonto, Ahmad Yani Suratinoyo (AYS).
Kendati menolak maju ke Pilbup, nama Sam Sachrul Mamonto, Ketua DPRD Boltim, terus meroket. Akan halnya Medi Lensun yang menyatakan siap berpasangan dengan siapa saja.


Menurut Harry Mokodompit, mahasiswa Universitas Janabadra Jogjakarta, pemunculan figur-figur ini bukan urusan ringan bagi Petahana. “Kalau ditarik ke belakang riwayat perjuangan dua Petahana yaitu Eyang dan Om Oku di Pilkada lalu, hampir semua orang pesimis mereka akan terpilih. Begitu juga dengan figure-figur yang akan maju di Pilkada 2015. Semua pasti bisa membaca kecenderungan masyarakat pemilih, termasuk para calon Bupati,’’tanggapnya.

(timkabar)  
- - - - - - -

Penahanan Kasat Pol PP Minsel Dinilai Jatuhkan Pamong  


Noldy Pratasis
KABAR, Minsel – Penahanan kepada Kepala Sat Pol PP Minsel Dadi alias (NR) beserta sejumlah anggota Sat Pol PP Minsel, ketika menertibkan Kapal Aspal curah yang tidak memiliki Ijin tersebut, pihak LSM Pelopor Angkatan Muda Indonesia (PAMI) angkat bicara.

Menurut Ketua PAMI, Noldy Pratasis, PT Maesa Nugraha yang sudah tidak mengantongi ijin, atau perusahaan aspal curah yang sudah beroperasi sejak pemerintahan RML-VT.

Tetapi, apa untung dan rugi bagi rakyat Kabupaten Minahasa Selatan. Sementara, beberapa tahun terakhir penolakan dikeluakan Bupati Christiany Eugenia Paruntu, SE. Termasuk mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) guna menolak keras kelanjutan PT MN tersebut.

Noldy Pratasis menjelaskan, bahwa sikap tidak baik ditunjukkan managemen PT MN belakangan ini. “Memang, saya melihat ada indikasi permainan tingkat tinggi. Bahkan, sikap pandang enteng terjadi didalamnya. Termasuk, didalamnya cara-cara tidak baik ingin menjatuhkan pamong atas kelangsungan pemerintahan Tetty Paruntu,’’ujar Pratasis dengan nada keras.

Pratasis juga mengecam PT MN, bahwa dalam mengoperasikan perusahaannya dilakukan tidak feer. Kenapa demikian, karena ada dugaan, masuknya petinggi untuk menyelesaikan secara tidak baik.

“Apa untung dan rugi bagi rakyat Minsel terhadap PT MN? Juga, sisi buruk yang berdampak pada pantai Teluk Amurang. Ketika area Hutan Mangrove dijadikan tempat berlabuh kapal milik PT MN, apakah benar dimata hukum lingkungan. Bahwa, kasus yang mengakibatkan ditangkapnya Kepala Sat Pol PP Minsel, Drs NR alias Dady dan dua anggotanya sebagai tersangka oleh Polres Minsel sudah benar,’’tanya Pratasis.

Pratasis juga menilai praktek PT MN untuk membongkar aspal curah di hutan mangrove adalah salah besar. Tapi sayang, penyidik pun tidak bisa mengungkap pasal-pasal kesalahan managemen PT MN dilihat dari hukum lingkungan.


“Jelas sudah salah. Jelas pula sudah melanggar aturan dan perundang-undangan tentang hutan mangrove. Imbas dari kasus diatas bisa berakibat abrasi pantai dan atau lain-lain yang dapat merugikan pemerintah dan rakyat Minsel. Dengan demikian, PAMI jelas-jelas mempertanyakan kasus yang notabene telah dijadikan tersangka mantan Camat Amurang Barat tersebut. Bagi PAMI tetap berada dibelakang pemerintahan Tetty Paruntu,”tutup Pratasis.

(hanny)
-
Cristiany Eugenia Paruntu, SE
KABAR, MInsel – Rasa bangga kini tengah dirasakan Honor daerah Kategori Dua (Honda K2) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), dimana masih ada sedikitnya 363 yang belum diangkat CPNS.

Namun kini, ada harapan mereka akan diangkat menjadi CPNS Minsel, karena kini nama mereka telah berada di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN dan RB).

“Kami tahu ini berkat perjuangan ibu bupati Christiany Eugenia Paruntu, SE sehingga kami mendapatkan peluang untuk diangkat CPNS,” ujar sejumlah Honda K2.


Lanjut mereka, tidak perlu tahu nama satu persatu untuk dipublikasikan, yang terpenting mereka bersyukur dan berterima kasih atas perhatian Bupati memperjuangkan Honda K2 Minsel yang belum diangkat CPNS.


Berdasarkan informasi yang ada, pengangkatan 363 Honda tinggal menunggu petunjuk teknis (juknis) pusat.


Bupati Minsel, Cristiany Eugenia Paruntu, SE menyatakan telah menandatangani surat pernyataan pertanggung jawaban mutlak di Kementerian PAN dan RB. Bahwa ke 363 Honda Minsel ini benar-benar tenaga honorer yang bekerja di lingkungan pemerintahan kabupaten (Pemkab) Minahasa Selatan.


“Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya mensejahterakan masyarakat Minsel, termasuk bagi mereka honorer yang telah bekerja di lingkungan Pemkab Minsel untuk diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS),” ujar Tetty Paruntu merendah, sembari menambahkan, bagi honorer yang juga telah bekerja diatas lima tahun akan diperjuangkanya.

(hanny)
-

Dipicu Penarikan Retribusi Tanpa Karcis




KABAR, Minsel - Tidak setuju dengan rute perjalanan trayek Amurang Tumpaan, berikut penarikan retribusi di dua pos Dinas Perhubungan (Dishub) Minsel, tanpa dibarengi karcis, akhirnya menyulut aksi mogok sopir angkot Amurang-Tumpaan, baru-baru.
Puluhan sopir melalui Kordinator Lapangan (Korlap), Rudi, meminta pihak Dishub Minsel supaya mengalihkan angkot ke rute lama. Karena dengan berkeliling dari Tumpaan, naik  ke terminal dan mutar balik ke ruas jalan Koramil Amurang untuk kembali ke lokasi pasar, rutenya terlalu jauh. Buntutnya, memperbesar pengeluaran BBM angkot. Apalagi, para sopir diharuskan membayar retribusi di terminal dan di pos parkir. Parahnya lagi, penagihan restribusi tidak disertai karcis. Itu pula yang membuat curiga para sopir.
"Kami merasa berat jika penagihan tidak disertai karcis, karena itu bisa menjadi pungli bagi dinas terkait,"kata Korlap Demo, Rudi, didukung puluhan demonstran.
Pendemo dengan perwakilan 10 sopir angkot, akhirnya diterima Sekda Minsel Drs Danny Rindengan dan Kadis Perhubungan Dan Komunikasi Minsel Izak Rey SE.
Pada kesempatan tersebut Rindengan menyatakan, untuk rute yang kini diterapkan oleh dinas Perhubungan masih sedang taraf evaluasi dan sosialisasi. Jika rute tersebut masih menimbulkan kemacetan, maka pasti akan dibenahi. Para sopir angkot Amurang Tumpaan diminta bersabar.
Kadis Perhubungan Minsel, Izak Rey, ketika dikonfirmasi berhubungan dengan rute trayek Amurang Tumpaan mengatakan, saat ini kondisi lokasi yang sering macet sudah mulai teratasi. Dia menilai aksi mogok dan demo itu wajar. Namun, katanya pihak dinas perhubungan menerapkan apa yang terbaik dan ini masih tahap sosialisasi. Apalagi ini baru berjalan beberapa hari. “Siapa tahu di kemudian hari rute trayek Amurang Tumpaan akan berjalan baik,’’tukasnya.
Sedangkan mengenai penagihan di dua pos, itu sesuai dengan Perda. Dimana setiap kendaran umum diharuskan membayar retribusi di terminal, dan membayar di pos parkir. Soal keluhan terkait pembayaran tidak dilengkapi dengan karcis, dibantahnya. “Itu tidak benar, karena pihak sopir sering kali tidak mau menerima karcis tersebut, meski demikian karcis yang sudah dirobek itu sudah terhitung pada retribusi,"tutup Rey.

(hanny) 

Jika Awal 2016, Pembiayaan dari APBN

DR Fanley Pangemanan
KABAR, Minsel - Soal kejelasan pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada, red) di Kabupaten Minahasa Selatan, hingga kini masih menggantung.

Ada sumber menyatakan hajatan politik itu digelar medio 2015, ada juga yang menyebut nanti 2016. Bahkan, ada pula sumber mengatakan bahwa kegiatan pemilukada Minsel, dilaksanakan awal tahun 2016.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Minsel, DR Fanley Pangemanan, saat ditemui wartawan media ini, tak menampik soal isu tersebut.

“Memang dari hasil rapat dengan KPU pusat beberapa waktu lalu, PKPU akan turun usai revisi Undang-undang Pilkada, yang kini sementara dibahas oleh DPR-RI. Terus terang, jika pembahasan baru akan selesai pada bulan tujuh (Juli), berarti tahapannya akan menyesuaikan, dan Pilkada, baru akan dilaksanakan tahun 2015, atau awal tahun 2016,” kata Pangemanan.

Lanjut dia, dan ini hanya prediksi, dan pokoknya apabila pelaksanaan kegiatan Pemilukada ini penganggaran akan dibiayai oleh APBD Kabupaten Minsel.
“Dan jika pelaksanaan kegiatan tersebut, dilaksanakan tahun 2016 sumber anggarannya otomatis akan dibebankan ke APBN,” katanya.

(hanny)
-


Eyang, sapaan akrab, Sehan Landjar, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), dalam momen apapun selalu membuat banyak orang terkesima. Bahasa lisannya yang merakyat, ringan, kocak, dibarengi gestur yang familiar, membuat siapa saja mudah akrab.  Ia juga dikenal orator yang handal. Mengolah panggung dihadapan audiens yang majemuk, enteng buat Eyang. Tak hanya argumen intelek yang dapat disua darinya, tapi bertabur firman dan hadis pula. Pendeknya, Eyang, seorang yang khatam.Di pentas politik, Eyang kadung distempel politisi bergaya Pelangi. Sedikitnya lima symbol partai dilekatkan atau lekat dengan dirinya. Sayang, Pelangi menggelayuti Eyang, disangka Abu-Abu.











KABAR, Boltim – Entah itu pula, barangkali, penyulut syak wasangka Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), kala ikhtiar Eyang berlabuh di partai bergambar Banteng Moncong Putih, kandas di Pleno DPD PDI-P Sulut.

Publik tentu tercengang. Apa yang kurang pada sosok Eyang?. Mendapat dukungan bulat dari 51 Ranting PDI-P Boltim dan kapasitasnya sebagai Bupati pilihan pertama rakyat Boltim, justeru ‘diabaikan’ Moncong Putih.

Konon, aturan normatif internal PDI-P, berupa Skep 066 dan Skep 067, disebut-sebut membuat Sehan Landjar tersingkir dari Daftar Calon Ketua DPC PDI-P Boltim. Ini dibenarkan Medy Lensun, Wakil DPD PDI-P Sulut.

“Beliau (Sehan Landjar, red) tidak memenuhi syarat sesuai Skep 066 dan Skep 067. Itu (pencoretan Sehan Landjar dari daftar calon Ketua DPC PDI-P Boltim, red) sudah hasil rapat pleno seluruh DPD Kabupaten/Kota di Sulut, dipimpin Ketua DPD PDI-P Sulut,’’kata Lensun.
Namun, beberapa kader PDI-P Boltim yang mendukung penuh Eyang maju sebagai calon Ketua DPC PDI-P setempat, ngotot kalau penyingkiran Eyang, lantaran isu arah dukungan pada Pemilihan Presiden (Pilpres).

“Di DPD PDIP Sulut berkembang isu kalau pada Pilpres lalu Eyang berseberangan. Feeling saya pun, itulah penyebab beliau dicoret dari daftar calon. Isu berseberangan di Pilpres dianggap fatal oleh partai,’’ungkap salah satu kader PDI-P Boltim, meminta namanya tak ditulis, kepada KABAR, Minggu (15/02/2015).

Medy Lensun sendiri, ketika ditemui, menyatakan bahwa sejak awal Eyang memang tidak mungkin dicalonkan, karena aturan partai memang tidak membolehkan. “Lagi pula bupati juga tidak pernah bicara soal PDIP setiap ketemu kami. Jadi ndak nda ada yang perlu dikomentari soal beliau,”tukasnya.


Setelah Eyang tersingkir dari Daftar Calon, Fit and Proper Tes (FPT) bagi calon Ketua DPC PDI-P Boltim, digelar Senin (16/02/2015) di Hotel Gran Puri Manado. Lima kader PDI-P disebut-sebut mengikuti FPT adalah Mirna Mokodompit, Abdurachman Ambarak, Rocky Wowor, Doni Sahe dan Medy Lensun.

Kader PDI-P Boltim, Jems Eliser Tine, mengatakan, meski Eyang didukung penuh 51 Ranting, namun keputusan ada pada pleno DPD Sulut. “Meskipun (dukungan) arus bawah kuat tapi mentoknya ada di DPD dan selaku kader partai kami mendukungnya,”ucapnya.(#)

Kata Mereka:


Kisman Mokodompit, tokoh masyarakat;

Sudah saatnya Eyang menentukan sikap politik. Sekarang ini malah ibu Nursiwin Dunggio yang berpartai. Saya tidak sependapat jika ada sangkaan Eyang abu-abu dalam berpolitik atau memimpin daerah. Buktinya, banyak program Eyang yang dirasakan masyarakat. Mengenai yang terjadi di Desa Kayumoyondi, dimana kami minta Bupati memerintahkan sangadi melanjutkan pembangunan menara mesjid, sekarang belum ada tanda-tanda, masyarakat tentu kecewa.
Eyang memiliki kelebihan, kemampuan meloby anggaran pusat yang sekarang dampaknya dirasakan masyarakat. Satu kekurangan Eyang, banyak menebar janji sehingga beliau kesulitan saat merealisasikannya.
Menurut saya, pemimpin Boltim yang ideal adalah mampu membangun daerah ini dan siap mendengar keluh kesah
rakyatnya dan merealisasikannya.(#)

Nugroho Lasabuda, mantan Ketua KPMIBM Cabang Minahasa

Saya melihat Eyang tidak jelas membangun kekuatan politiknya, dibanding Kepala Daerah lainnya. Meski Eyang dipilih rakyat, jika kekuatan politik tidak dibangun baik, tentu sulit karena partai adalah kendaraan. Jika Eyang tidak segera berpartai, ini akan mempengaruhi langkah politik berikutnya.
Ada yang menilai Eyang abu-abu, barangkali itu berkenaan dengan arah politik Eyang yang sulit diterka. Dalam memimpin saya rasa tidak, karena untuk posisi saat ini, apa yang menjadi kebijakannya masih berjalan baik. Namun jika begini terus akan berpengaruh pada kebijakan politik
Memang setiap pemimpin ada kelebihan dan kekuarangannya. Nah, Eyang di mata saya adalah orang yang selalu dengan gagasan-gagasan brilian. Dituangkan dalam program dan saat ini berjalan baik. Seperti program RTLH. Saban tahun diberikan kepada masyarakat kurang mampu. Kekurangan Eyang terlalu banyak janji. Sekarang saja, dari 100 persen janji, belum setengah terpenuhi. Pernah saya bilang sama Eyang, agar Boltim ciptakan ikon sebagai daerah Wisata. Tapi Eyang jawab, itu akan merubah sikap, budaya masyarakat. Sampai akan berakhir masa jabatan beliau, daerah ini tidak punya ikon.

Saya kira yang pas, pemimpin jangan banyak berjanji. Dulu, sebelum Jokowi dikenal karena blusukannya, Eyang sudah lebih dulu blusukkan. Aplikasi dari blusukkan itu yang sekarang ditunggu masyarakat pada Eyang.(#)


(Modrik)
- - - - - -
Christiany Eugenia Paruntu
KABAR, Minsel- Bupati Minahasa Selatan (Minsel) Christiany Eugenia Paruntu SE, menunjukan berkomitmennya untuk tetap berjuang untuk membangun sarana jalan, baik ruas jalan desa, jalan kecamatan, maupun jalan kabupaten yang ada di kabupaten Minsel.

Pasalnya, dari total Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diterima, yakni Rp 23,4 miliar, pos anggaran untuk pembangunan sarana jalan sebesar Rp 15,3 Miliar. Demikian disampaikan Bupati Minsel melalui Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Minsel Ir Jootje Tuerah ST MT. Dibanding pada tahun 2014 ini, tahun 2015 mendatang DAK Minsel naik kurang lebih Rp 6,3 Miliar, sebelumnya dana DAK hanya sebesar Rp 17 miliar, tapi berkat perjuangan Bupati Minsel Christiany E Paruntu SE, sehingga saat ini naik menjadi Rp 23,4 miliar.

Selain itu, ditahun 2015 ada beberapa pembangunan mega proyek yang akan masuk Minsel diantaranya pembangunan ruas jalan nasional dan juga provinsi lewat dana APBN yang telah dilobi Bupati Tetty, seperti halnya lanjutan pelebaran jalan Trans Sulawesi dan juga pelebaran ruas jalan di daerah Minsela.

Ia menambahkan bahwa DAK jalan Rp 11,1 miliar, DAK Irigasi Rp 4,1 miliar, DAK air bersih Rp 2,2 miliar, DAK sanitasi Rp 1,8 miliar, DAK transportasi desa Rp 4,2 miliar.(hanny)
- -
Drs Corneles Mononimbar MM
KABAR,Minsel-Hingga pertengahan Oktober 2014 ini, sedikitnya 58.606 warga di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) belum melakukan perekaman Kartu Tanda Penduduk Elekronik (e-KTP). Berdasarkan data yang diperoleh di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, wajib KTP di Misel mencapai 168.522 jiwa, namun yang sudah melakukan perekaman baru 109.916 jiwa.

Menurut Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Drs Corneles Mononimbar MM, banyaknya warga Minsel yang belum melakukan perekaman diharapkan bisa secepatnya melakukan perekaman. 

”Desember 2014 merupakan batas akhir melakukan perekaman. Setelah itu warga yang belum melakukan perekaman akan dikenai sanksi administrasi. Dimana mereka akan sulit melakukan pengurusan berbagai berkas apapun baik di bank, imigrasi dan lain sebagainya,” ujar Mononimbar.

Dia juga berharap kepada seluruh masyarakat Minsel yang belum mengurus KTP Elekronik untuk dapat segera mengurusnya, sebelum akhir Desember 2014. ”Banyak sekali manfaat yang akan didapatkan dengan mengantongi e-KTP, dan juga akan banyak kesulitan yang akan didapat warga yang belum mengurusnya,” kuncinya.(anp)

Frangky Tangkere SP MSi

KABAR, Minsel- Bertempat di Hotel Bech Kambiuw, Kelurahan Bitung Amurang, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) melakukan pelatihan kepada penyuluh pendamping, yang ada di 17 Kecamatan.                                                                                                       
Diakui Kaban P4 K Minsel, Frangky Tangkere SP MSi bahwa pelatihan penyuluh pendamping bertujuan untuk memberdayakan para penyuluh yang ada di setiap Kecamatan, guna menghasilkan petani yang berkualitas efesien dan mandiri. Dimana hajatan ini dihadiri 50 peserta yakni penyuluh yang ada di BP3K yang ada di 17 Kecamatan.

Lagi Tangkere menuturkan, selain untuk menghasilkan petani dan nelayanan yang berkualitas, efesien dan mandiri, pelatihan penyuluh pendamping  juga bertujuan untuk mengoptimalkan para petani yang ada di setiap Desa maupun Kelurahan. 

Tugas penyuluh yang sudah dibekali dalam pelatihan yakni melakukan sosialisasi terhadap setiap program, baik pertanian, nelayanan maupun perkebunan yang ada di Kabupaten Minsel, sehingga bisa melahirkan petani berkualitas dan mandiri. "Kami berharap setelah pelatihan ini, maka para penyuluh akan dapat mensosialisaskian kepada seluruh petani dan nelayan yang ada di 17 Kecamatan di Kabupaten Minsel," kunci Tangkere didampingi Sekertaris, Sonny Poli SE.(anp)