Select Menu
KABAR TEKNOLOGI GIF


Slider

Travel

Performance

Cute

My Place

Olahraga

Racing

Pengurus KSU Harus Sabar dikukuhkan.
KABAR,Bitung - Sekrertaris Kota Bitung Drs. Edison Humiang,M.Si, melantik Pengurus Koperasi Serba Usaha (KSU) “Harus Sabar” yang digelar oleh, di Kompleks Pasar Pinasungkulan Kelurahan Sagerat Weru Kecamatan Matuari, Jumat (21/11).

Kepengurusan yang dilantik ini merupakan upaya kerjasama Dinas Koperasi dan UKM bersama para pedagang. Turut Hadir Dalam Pelantikan tersebut, Kadis Koperasi dan UKM, Kadis Pasar Kota Bitung, Dra. Rita Tumewu, serta sejumlah SKPD terkait juga para pedagang Pasar Pinasungkulan.

Pelantikan Pengurus ditandai dengan pengambilan sumpah dan janji sekaligus peandatanganan dan penyerahan berita acara,  dilanjutkan dengan pembukaan kain selubung papan nama KSU "Harus Sabar" oleh Humiang.

Sementara, Humiang dalam sambutan menyampaiakan dengan terbentuknya pengurus dan KSU ini maka kedepan nanti akan menjadi suatu wadah dalam mengerahkan aktivitas bagi para pedagang pasar Pinasungkulan untuk lebih mengoptimalkan guna kemajuan usahanya,  juga dalam membantu masyrakat dan Pemerintah dalam pencapaian suatu pembangunan menuju kesejahteraan.

Ditambahkannya, pengurus KSU “Harus Sabar” diminta perlu adanya pengurusan pengelolaan yang baik dan dapat melaksanakan aktivitas dan tanggungjawab secara profesional. “Juga diharapkan terarah terutama dalam bidang usaha agar pencapaian kipra dan tujuan bersama pedagang dapat berjalan dengan baik,“ tegasnya.


Pengurus pedagang pasar juga berkesempatan mengungkapkan terimakasih kepada Pemerintah Kota Bitung atas bantuan dan dukungan sehingga kepengurusan KSU “Harus Sabar” dapat terbentuk. (AS)
-

KABAR,Bitung – Dalam waktu dua hari terakhir media massa lokalan dihebohkan dengan adanya insiden kekerasan oleh Tenaga Harian Lepas (THL) kepada Kepala Dinas Perhubungan Kota Bitung, Oktav Kandoli. Insiden ini berawal saat Kandoli memergoki salah satu THL berinisial E, dalam keadaan sedang mabuk miras, jumat pekan lalu.

Kandoli yang merasa bertanggung jawab atas anak buahnya, langsung menegur yang bersangkutan. Tak terima ditegur atasannya, E langsung berkoar-koar seraya menantang Kandoli berkelahi.

Kandoli yang dikonfirmasi wartawan, Kamis (30/10), menyatakan bahwa tidak benar dirinya ditantang berkelahi. Ia menganggapnya itu hanyalah insiden kecil. Bahkan, dengan tegas Kandoli menyatakan pihaknya masih memberikan kesempatan kepada THL bersangkutan untuk memperbaiki kesalahannya.


“Hanya insiden kecil saja. Kalau memang yang bersangkutan menantang saya berkelahi, itu tidak saya dengar, karena sesudah saya pergoki, saya langsung kembali masuk ke ruangan. Urusan itu sudah diserahkan kepada Sekretaris Dinas untuk menanganinya. Beliau sudah melakukan pembinaan langsung kepada yang bersangkutan. Tinggal sekarang yang bersangkutan saja. Apakah mau berubah dengan memperbaiki sikapnya ataukah tidak,” pungkasnya. (AS)
Frits Loppies
KABAR,Bitung – Kabar gembira bagi para pelanggan Kartu telkom Flexi. Pasalnya, setelah sekian lama belum ada modifikasi dan pengembangan bagi kartu selular andalan Telkom itu, kini muncul kebijakan PT Telkom untuk memigrasikan kartu Flexi menjadi pelanggan kartu Telkomsel, yakni tepatnya Kartu Simpati.

“Memang sudah ada kebijakan untuk memigrasikan pelanggan kartu Flexi ke Kartu Simpati. Aplikasinya pada masing-masing Plaza sudah terpasang dan sudah dipersiapkan. Namun, tanggal tepatnya migrasi Kartu Flexi ke Kartu Simpati, khusus untuk wilayah Sulawesi Utara sendiri masih belum diberitahukan. Karena, di wilayah Indonesia bagian Barat, sudah mulai dilaksanakan,” ujar Kepala Kantor Daerah Telekomunikasi (Kandatel) Kota Bitung, Frits Loppies, kepada KABAR, Kamis (30/10).

Menurutnya, peminta Kartu Flexi sendiri terbilang cukup banyak di kawasan regional Sulawesi Utara. Sayangnya, pengembangan teknologi berbasis CDMA ini tidak didukung dengan pengembangan berbagai produk dan separe part yang memadai. Belum lagi Stasiun Transmisi Otomat (STO) yang tersedia di lapangan, hampir seluruhnya berbasis pengembangan teknologi GSM. Sehingga, kondisi ini tentu mempersulit pengembangan kartu/produk andalan dimaksud.

“Kalau mau dibilang minat, pelanggan CDMA justru cukup banyak. Namun, produksi spare part maupun pengembangan teknologi CDMA ini sudah sangat terbatas di lapangan. Kalaupun ada spare part atau produk CDMA, itu hanya sisa dari hasil pengembangan yang lalu. Inilah kendala yang kami hadapi,” tegasnya.

Tentang sosialisasi migrasi Kartu Flexi ke Kartu Simpati, terangnya, ada beberapa alternatif yang sedianya digunakan. Seperti melakukan sosialisasi melalui media massa, atau juga media sosial. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan diberitahukan melalui pemberitahuan tertulis yakni surat kepada pelanggannya.


Dari sisi tenaga aplikator migrasi, tambahnya, pada masing-masing plaza sudah disediakan tenaga ahli khusus yang mema memang disediakan langsung dari perusahaan induk yakni Telkom Group. (AS)

Oktav Kandoli

KABAR,Bitung – Operasi Tarsius yang intensif digelar Dinbas Perhubungan Kota Bitung bekerjasama dengan Satuan lalu Lintas (Satlantas) Polres Bitung, beberapa hari terakhir, semata-mata untuk melakukan pemeriksaan atas angkutan kota yang bero-perasi di wilayah ini. Selain administrasi atau surat-surat kelengkapan kendaraan berm-otor, turut diperiksa alat kelengkapan dan keselamatan yang ada pada kendaraan pengangkut dimaksud. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Kota Bitung, Oktav Kandoli, kepada wartawan, Kamis (30/10).

“Ini lebih diintensifkan kepada kelengkapan beroperasi kendaraan angkutan umum, sebagaimana dituangkan dalam Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu Lintas Jalan Raya. Yang kami periksa apakah kendaraan tersebut laik berjalan ataukah tidak,” ujarnya.

Menurutnya, operasi khusus ini semata-mata untuk memberikan kenyamanan baik bagi pebngemudi, penumpang maupun pejaklan kaki yang berada di jalan. Dimana, kelayakan operasi sebuah kendaraan turut berpengaruh pada tingkat keselamatan para pengguna jalan.

“Kalau sebuah kendaraan sudah tidak laik jalan dan kemudian dibiarkan berjalan atau beroperasi, maka itu berarti sebuah tindakan yang melanggar undang-undang yang berlaku. Ini yang kami galakkan. Sehingga, kenyamanan pengendara dan penumpang maupun keselamatan para pengguna jalan juga benar-benar terjamin,” jelasnya.


Dalam operasi ini, tegasnya, pihaknya hanya melakukan pemeriksaan atas kendaraan angkutan umum seperti angkutan kota (angkot). Namun, dalam beberapa hari kedepan, pihaknya akan melakukan operasi yang sama tetapi akan dikhususkan bagi kendaraan angkutan khusus, tepatnya mini bus atau juga truk. (AS)


KABAR,Bitung-Setelah menempati posisi ketiga besar dalam penilaian Low Carbon Model Town (LCMT), kini Kota Bitung boleh berbangga berada dalam posisi dua besar peringkat LCMT yang diikuti oleh 19 negara Asia Pacific. Namun, hasil ini masih belum paten dikarenakan hasil penilaian LCMT sendiri akan diumumkan pada pekan depan. Beranjaknya posisis Kota Bitung menjadi peringkat dua besar ini terkuak dalam keterangan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Bitung, Audy Pangemanan, kepada wartawan, Kamis (30/10).

Sebelumnya, wakil Indonesia yang diusulkan adalah Kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua setelah Kota Jakarta. Namun, para juri justru tertarik dengan Sulawesi Utara. Bahkan, Kota Tomohon juga sudah diusulkan untuk menjadi wakil dalam LCMT ini. Sayangnya, para juri justru lebih tertarik dengan Kota Bitung. Sehingga, Kota Bitung pun dipilih untuk menjadi wakil Indonesia dalam penilaian LCMT itu.

“Apa sih yang bisa ditonjolkan Kota Bitung? Padahal Kawasan Ekonomi Khusus sendiri kan belum terbangun. Jangan salah menilai. Dalam LCMT ini ada dua kategori kota yang dinilai yakni kategori kota dengan konsep pembangunan yang belum terbangun (brownfield-Red) dan konsep kota dengan pembangunan sudah terbangun (green field-Red). Sebu, kota kedua terbesar di Philipin setelah Davao, sudah mengajukan konsep greenfield. Begitupun dengan Tiangjin di China. Namun, Bitung justru mengajukan konsep brownfield, justru mampu menduduki peringkat kedua polling sementara, tepat setelah Tiangjin,” ujarnya.

Menurutnya, Kota Bitung dalam penilaian LCMT ini menjual konsep pembangunan KEK yang kedepannya rendah karbon. Sinergitas antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota, justru sangat diapresiasi oleh para juri saat melakukan kunjungan ke Kota Bitung beberapa waktu lalu. Apalagi, ini ditunjang dengan adanya PP No 32 tahun 2014 tentang KEK, Peraturan Daerah, baik Gubernur maupun Walikota, justru menunjang program pembangunan yang ramah lingkungan sesuai dengan konsep pembangunan yang sudah ditetapkan.

Selain segi peraturan yang menunjang kegiatan pembangunan kota, terangnya, faktor kedua yang dinilai mampu menopang konsep yang diajukan oleh Kota Bitung adalah banyaknya Kabupaten/Kota di Indonesia yang sementara gemar berkembang dan getol melakukan pembenahan dalam berbagai bidang. Jika saja Kota Bitung tidak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi, maka kemungkinan besar daerah-daerah lain akan melangsungkan pembangunan yang juga tidak peduli ataupun tidak ramah lingkungan.

“Jika Kota Bitung diberikan kesempatan, maka ada ratusan darah lainnya juga akan meniru konsep pembangunan yang dilakukan Kota Bitung dengan kadar karbon yang rendah serta ramah lingkungan. Dan, ini bukan saja berdampak bagi Sulawesi Uatar, tetapi berdampak juga bagi Indonesia bahkan Asia Pacific,” tegasnya.

Faktor penunjang lain pertimbangan Kota Bitung dalam penilaian kota dengan rendah karbon, tambahnya, adalah Bitung merupakan kota industri dan pelabuhan yang sekaligus masih memiliki cagar alam, tepatnya hampir 50% luas wilayah daratannya merupakan hutan. Sementara kota lain, justru memiliki kawsan hijau penunjang konsep perkotaan yang jauh lebih rendah.

“Kota ini masih memiliki Taman Wisata Alam seperti Tangkoko-Batuputih dan Batu Angus. Otomatis pembangunan kedepan kita harus memperhatikan hutan dan kekayaan alam ini yang masih ada dan akan terus kita pelihara dengan baik,” terangnya.

Selain menjaga agar tidak terjadinya perambahan hutan, ada juga upaya masiv dari pemerintah dan masyarakat seperti penggalakan penanaman pohon, baik di tepi jalan, ruang terbuka kosong hingga menjadi ruang terbuka hijau. Sehingga dari sisi keunikan, Kota Bitung justru menonjolkan konsep pembangunan yang rendah karbon dibandingkan dengan kota industri lainnya yang sudah membangun dan sementara mengupayakan untuk merendahkan karbon dalam wilayahnya.


“Karena itu kami sangat butuhkan dukungan dari seluruh stakeholder yang ada. Doakan saja Kota Bitung bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Dan kalau memang kita menang, maka daerah lain  akan mencontoh ke Kota Bitung,” pungkasnya. (AS)
-

KABAR,Bitung-Senjata terampuh dalam menangkal dan membendung terjadinya situasi chaos antar umat beragama adalah meningkatkan rasa toleransi antar sesama. Hal ini diungkapkan Asisten I Sekretariat Kota Bitung, Fabian Kaloh SIP MSi, disela-sela Coffe Morning yang digelar di Makodim 1310, Rabu (29/10).                                                                             

Menurutnya, konflik yang paling sering terjadi adalah pada negara-negara dunia ketiga. Dengan sumber dan potensi konflik adalah krisis sumber daya alam seperti air, sumber energi, SDA lainnya, hingga krisis pemerintahannya sendiri. Konflik yang terjadi ini kemudian diakomodir oleh media massa yang dikonsumsi oleh warga dunia.                                                                     
Sayangnya, warga sendiri terprovokasi dengan konflik itu dan kemudian menciptakan primordial bahwa agama adalah segalanya. Ujung-ujungnya, segala sesuatu diukur beradasarkan agama, bukan lagi dinilai berdasarkan kompetensi maupun kapabiltasnya.                                             

Kota Bitung sendiri, terangnya, berpotensi untuk terjadinya konflik horizontal yakni konflik suku dan agama. Karena itu, pemerintah daerah sering menggalakkan upaya untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama di tengah-tengah masyarakat Kota Bitung. “Yang pemerintah daerah galakkan adalah meningkatkan toleransi antar umat beragama. Tepatnya kita harus saling menghargai satu agama dengan agama yang lainnya. Karena itu, saya himbau kepada seluruh warga untuk tidak menjadi orang Kristen maupun tidak menjadi orang Islam yang sama seperti diluar sana. Tetapi, jadilan orang Kristen dan orang Islam Kota Bitung, yaitu orang Kristen dan orang Islam yang sama-sama mencintai Kota Bitung, Sulut dan mengupayakan kedamaian di daerah yang kita cintai ini,” ujarnya.                                                                                                 

Apalagi menurut Kaloh, keberadaan kota Bitung yang strategis dengan hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), demikian kota Cakalang menjadi pintu masuk atau pintu gerbang ekonomi Asia Pasifik melalui jalur laut pelabuhan Samudera Bitung yang kini dikembangkan sebagai HUB Port. Apabila jalur-jalur ini sudah terbuka, maka arus perputaran perekonomian akan berlangsung dengan sangat cepat. “Jalur-jalur sudah akan dibuka, nantinya akan ditunjang dengan keberadaan jalan TOL Bitung-Manado dan jalur-jalur lain sebagai penghubung yang sementara dirancang pembangunannya. Itu berarti, kedepan Sulawesi Utara ibarat gula, dan semut akan datang dengan sendirinya. Intinya akan banyak perluasan bisnis di daerah ini,” sebut Kaloh.                                                       
Untuk itu tonaas Brigade Manguni (BM) Bitung mengingatkan, dengan meningkatnya pembangunan dan daya saing, masuknya berbagai etnis untuk mengais pekerjaan di Sulut jelas akan berdampak terhadap kerawanan sosial di masyarakat. Apalagi dengan sengaja membawa-bawa nama agama sebagai tameng. “Olehnya, sedini mungkin permasalahan ini harusnya diredam, secepatnya diwaspadai,” tandas Kaloh.                                                                                                  

Sebab dalam sebuah konflik tegasnya, yang menjadi korban bukan saja kubu-kubu yang bertikai, namun yang paling menderita adalah masyarakat dalam lokasi dimana sebuah konflik itu terjadi. Bahkan mungkin, kondisi ini kemudian diperparah dengan keterlibatan para petinggi atau pejabat hingga pemuka masyarakat seperti tomas dan toga, hingga elemen pendukung lainnya. “Jangan mengaku pejabat, atau ketua organisasi atau juga pemimpin masyarakat, kalau tidak mampu mengatur dan membimbing masyarakat atau anggota yang terlibat dalam kelompok masyarakat dan organisasi itu sendiri. Selaku pemerintah daerah, kami menghimbau agar berhenti dengan mengangkat bendera agama, bendera suku, atau juga bendera golongan. Siapa saja oknumnya, kalau berada di Kota Bitung, berarti dia warga Kota Bitung. Itu berarti dia harus bersama-sama dengan pemerintah daerah maupun dengan seluruh lapisan masyarakat, menangkis berbagai upaya yang datang dari luar untuk memecah belah kergaman dan kerukunan yang sudah terbina baik selama ini,” tukasnya.(AS) 
-

Max J. Lomban,SE,M.Si
KABAR,Bitung-Lagi-lagi pemerintah dan masyarakat Kota Bitung boleh berbangga karena diberikan kesempatan berbicara di tingkat nasional. Kali ini, Pemerintah Kota Bitung diundang untuk membawakan materi oleh Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di Grage Horizon Hotel, Provinsi Bengkulu, sejak 13 s/d 15 Oktober 2014.                                     
Dan mewakili Pemerintah Kota Bitung dalam kesempatan ini adalah Wakil Walikota Bitung Max J. Lomban,SE,M.Si. Saat menyampaikan materi BPBD ini, Lomban didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Bitung, Drs. Adri Supit, serta Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Bitung, Drs. Jeffry Wowiling.

Hadir pula dalam acara tersebut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, DR. Syamsul Maarif serta pejabat BNPB lainnya. Turut hadir juga dalam acara tersebut Gubernur Bengukulu juga para Gubernur, Bupati/Walikota se Indonesia, pejabat Kementrian Lingkungan Hidup, BPPT, Kemendagri, unsur TNI/Polri, para akademisi, pemerhati lingkungan dan bencana serta seluruh kepala BPBD prov/kab/kota se Indonesia.                                                                                                                           
Topik materi yang dibawakan Lomban yakni “Kebijakan Pengurangan Resiko Bencana Dan Adaptasi Perubahan Iklim Dalam Perencanaan Pembangunan Daerah”.                                                                               

Lewat undangan ini Kota Bitung dinilai oleh Pemerintah Pusat sebagai Daerah yang dapat dijadikan contoh sebagai Kota yang memiliki Rencana Penanggulangan Bencana Tahun 2013–2017. “Ini kami diwujudkan dalam Peraturan Daerah (Perda) tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana serta telah memadukan  Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) tersebut kedalam (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) RPJMD termasuk rencana kerja tahunan SKPD” ujarnya.                                  

 Selain itu, tambahnya, mendukung rencana penanggulangan bencana yang tertuang dalam RPJM tadi, Kota Bitung juga telah mempersiapkan diri sebagai satu-satunya kota di Indonesia sebagai modal kota yang rendah karbon (Low Carbon Model Town). 

(AS)